Kembali ke Blog
hppharga pokok penjualanakuntansiusaha dagangusaha jasa

Cara Menghitung HPP Usaha Dagang dan Jasa: Rumus, Contoh, dan Tips

Panduan lengkap cara menghitung HPP untuk usaha dagang dan jasa. Rumus, contoh perhitungan, dan tips otomatisasi dengan MontPro.

19 August 20269 min readoleh MontPro Team

Kamu baru saja menyelesaikan penjualan besar. Omzet naik, tapi ketika dicek, laba bersih malah mengecil. Kamu tidak sendirian. Banyak pemilik bisnis di Indonesia yang belum paham cara menghitung HPP dengan benar, padahal harga pokok penjualan ini menentukan apakah bisnis benar-benar untung atau hanya terlihat untung di atas kertas.

Artikel ini membahas rumus HPP untuk usaha dagang dan jasa, lengkap dengan contoh perhitungan yang bisa langsung kamu praktikkan. Kamu juga akan belajar bagaimana otomatisasi dengan MontPro bisa menghilangkan kesalahan hitung manual.

Kalau kamu ingin langsung melihat bagaimana MontPro bekerja, coba gratis di https://montpro.aapgrp.com.

Kenapa Menghitung HPP Sering Jadi Masalah bagi Bisnis di Indonesia

Menghitung HPP terlihat sederhana di buku teks, tapi di praktik sehari-hari banyak pemilik bisnis yang salah menghitungnya. Masalah ini muncul karena transaksi bisnis di Indonesia tidak pernah linear. Ada retur barang, diskon dari supplier, biaya pengiriman, dan barang rusak yang semua memengaruhi angka HPP.

Berdasarkan pengalaman yang umum terjadi di lapangan, berikut kesalahan utama yang sering dilakukan pemilik bisnis:

  • Hanya menghitung harga beli tanpa memasukkan biaya pengadaan seperti ongkos kirim dan biaya bongkar muat
  • Retur pembelian tidak dicatat sehingga HPP menjadi lebih besar dari seharusnya
  • Diskon dari supplier diabaikan, padahal diskon mengurangi biaya perolehan barang
  • Data pembelian tersebar di Excel, nota, dan faktur tanpa satu sumber kebenaran

Untuk usaha dagang, kesalahan ini langsung terlihat di laba kotor. Jika HPP terlalu tinggi, laba kotor mengecil dan keputusan harga jual menjadi salah. Jika HPP terlalu rendah, kamu bisa menjual dengan harga yang merugikan tanpa sadar. Contoh nyata: sebuah toko elektronik di Jakarta menjual laptop dengan margin tipis, tapi lupa memasukkan biaya pengiriman dari distributor sebesar Rp 150.000 per unit. Dalam sebulan dengan penjualan 50 unit, kerugian tersembunyi mencapai Rp 7.500.000.

Di sisi lain, usaha jasa menghadapi tantangan berbeda. Banyak pemilik jasa tidak tahu bahwa biaya tenaga kerja langsung dan material yang digunakan untuk proyek tertentu harus dihitung sebagai HPP, bukan sebagai biaya operasional. Akibatnya, laporan laba rugi tidak mencerminkan profitabilitas setiap proyek secara akurat. Sebuah studio kreatif di Bandung pernah mengira proyek desainnya untung besar, padahal setelah dihitung ulang dengan memasukkan biaya desainer dan lisensi software, proyek itu hanya memberi margin 8%.

Menurut standar akuntansi Indonesia, PSAK 14 mengatur bahwa HPP harus mencakup semua biaya yang langsung terkait dengan produksi atau perolehan barang. Untuk usaha dagang, ini berarti harga beli ditambah biaya pengangkutan dan biaya lain sampai barang siap dijual. Untuk usaha jasa, ini berarti biaya langsung yang dapat diatribusikan ke penyediaan jasa. Tanpa pemahaman ini, laporan keuangan yang dihasilkan tidak akan akurat dan bisa menyesatkan keputusan bisnis.

Apa Itu HPP dan Bagaimana Rumus Menghitungnya

HPP atau Harga Pokok Penjualan adalah total biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang dijual dalam satu periode. Angka ini menjadi pengurang pendapatan untuk mendapatkan laba kotor.

Apa itu HPP? HPP adalah akronim dari Harga Pokok Penjualan, yang dalam istilah akuntansi internasional dikenal sebagai Cost of Goods Sold (COGS). Untuk bisnis di Indonesia, HPP adalah komponen utama dalam laporan laba rugi dan menentukan besarnya PPh final atau PPh 29 yang harus dibayar.

HPP dihitung dengan rumus dasar:

HPP = Total Pembelian + Biaya Pengadaan - Retur Pembelian - Diskon Pembelian

Rumus di atas berlaku untuk usaha dagang yang menggunakan metode periodik. Jika menggunakan metode perpetual, HPP dihitung otomatis setiap kali terjadi penjualan berdasarkan nilai persediaan yang keluar.

Ada dua metode perhitungan persediaan yang umum digunakan di Indonesia. Metode FIFO (First In First Out) mengasumsikan barang yang masuk pertama adalah barang yang dijual pertama. Metode rata-rata tertimbang menghitung HPP berdasarkan harga rata-rata semua barang yang tersedia selama periode berjalan.

Untuk usaha dagang, komponen HPP meliputi harga beli barang, biaya pengangkutan, biaya bongkar muat, dan biaya lain yang dikeluarkan sampai barang siap dijual. Retur pembelian dan diskon pembelian mengurangi nilai HPP. Contohnya, jika kamu membeli barang senilai Rp 100.000.000 dengan ongkos kirim Rp 5.000.000 dan mendapat diskon Rp 3.000.000, maka total pembelian bersih adalah Rp 102.000.000.

Untuk usaha jasa, komponen HPP meliputi biaya tenaga kerja langsung, material yang digunakan untuk proyek, dan biaya overhead langsung yang dapat diatribusikan ke proyek tertentu. Biaya seperti sewa kantor dan gaji staf administrasi tidak termasuk HPP, melainkan biaya operasional.

Menurut PSAK 14, biaya persediaan harus mencakup semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi siap untuk dijual. Ini sejalan dengan ketentuan perpajakan Indonesia yang diatur dalam UU PPh. Jika omzet kamu sudah melebihi Rp 4,8 miliar dalam satu tahun pajak, kamu wajib dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan harus memisahkan PPN masukan dari harga beli barang.

Cara Menghitung HPP untuk Usaha Dagang: Langkah demi Langkah

Untuk usaha dagang, menghitung HPP bisa dilakukan dengan mengikuti lima langkah berikut.

Langkah 1: Kumpulkan semua data pembelian. Kumpulkan semua data pembelian barang selama satu periode. Data ini mencakup faktur pembelian, nota, dan bukti transfer ke supplier. Pastikan semua transaksi tercatat, termasuk pembelian kecil yang sering terlewat.

Langkah 2: Jumlahkan biaya pengadaan. Jumlahkan semua biaya pengadaan yang terkait dengan pembelian tersebut. Biaya pengadaan meliputi ongkos kirim, biaya asuransi pengiriman, dan biaya bongkar muat. Jangan lupa mencatat biaya ini secara terpisah agar bisa ditambahkan ke harga pokok.

Langkah 3: Kurangi retur dan diskon pembelian. Kurangi total pembelian dengan retur pembelian dan diskon pembelian. Retur pembelian terjadi ketika kamu mengembalikan barang ke supplier karena rusak atau tidak sesuai. Diskon pembelian adalah potongan harga yang diberikan supplier karena pembayaran tepat waktu atau pembelian dalam jumlah besar.

Langkah 4: Hitung persediaan awal dan akhir. Persediaan awal adalah stok yang tersisa dari periode sebelumnya. Persediaan akhir adalah stok yang belum terjual di akhir periode. Lakukan stock opname secara berkala untuk memastikan angka persediaan akurat.

Langkah 5: Gunakan rumus HPP lengkap.

HPP = Persediaan Awal + (Pembelian + Biaya Pengadaan - Retur - Diskon) - Persediaan Akhir

Contoh perhitungan: Toko Sinar Jaya memiliki persediaan awal Rp 50.000.000. Selama bulan Januari, toko ini membeli barang senilai Rp 120.000.000 dengan ongkos kirim Rp 5.000.000. Ada retur pembelian Rp 10.000.000 dan diskon pembelian Rp 3.000.000. Persediaan akhir dihitung sebesar Rp 45.000.000.

HPP = Rp 50.000.000 + (Rp 120.000.000 + Rp 5.000.000 - Rp 10.000.000 - Rp 3.000.000) - Rp 45.000.000 = Rp 117.000.000

Jika omzet kamu sudah melebihi Rp 4,8 miliar dalam satu tahun pajak, kamu wajib dikukuhkan sebagai PKP. Sebagai PKP, kamu harus memisahkan PPN masukan dari harga beli barang. HPP yang dilaporkan adalah harga bersih tanpa PPN. Sesuai ketentuan DJP, keterlambatan pelaporan SPT Masa PPN dikenakan denda Rp 500.000 per masa pajak, jadi pastikan pencatatan pembelian dilakukan dengan benar dan tepat waktu.

Cara Menghitung HPP untuk Usaha Jasa

Untuk usaha jasa, HPP dihitung berdasarkan biaya langsung yang dikeluarkan untuk menyediakan jasa kepada pelanggan. Berbeda dengan usaha dagang, usaha jasa tidak memiliki persediaan barang dagang, sehingga rumus HPP lebih sederhana.

HPP Jasa = Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Material Langsung + Biaya Overhead Langsung

Apa itu biaya tenaga kerja langsung? Biaya tenaga kerja langsung adalah gaji atau upah yang dibayarkan kepada karyawan atau kontraktor yang secara langsung mengerjakan proyek atau memberikan jasa. Contohnya adalah gaji teknisi di bengkel atau upah desainer di studio kreatif.

Biaya material langsung adalah bahan habis pakai yang digunakan untuk menyelesaikan proyek. Contohnya adalah cat untuk jasa pengecatan rumah atau spare part untuk jasa perbaikan kendaraan. Biaya overhead langsung adalah biaya pendukung yang dapat diatribusikan langsung ke proyek tertentu, seperti sewa alat khusus atau biaya perjalanan ke lokasi proyek.

Contoh perhitungan untuk usaha jasa: Studio Desain Kreatif menerima proyek pembuatan logo senilai Rp 25.000.000. Biaya yang dikeluarkan adalah gaji desainer Rp 8.000.000, pembelian lisensi software Rp 2.000.000, dan biaya riset pasar Rp 1.500.000. Maka HPP untuk proyek ini adalah Rp 11.500.000 dan laba kotornya adalah Rp 13.500.000.

Untuk usaha jasa yang berjalan terus menerus seperti jasa konsultan atau jasa akuntansi, HPP dihitung per periode berdasarkan total biaya langsung yang dikeluarkan dalam periode tersebut. Ini berbeda dengan usaha dagang yang harus memperhitungkan persediaan.

Kesalahan umum yang sering terjadi pada usaha jasa adalah memasukkan semua biaya ke dalam HPP. Gaji staf administrasi, sewa kantor, dan biaya pemasaran bukan bagian dari HPP. Biaya-biaya ini masuk ke dalam kategori biaya operasional dan tidak memengaruhi laba kotor, melainkan laba bersih.

Sesuai dengan PSAK 14, biaya jasa yang belum diakui sebagai pendapatan harus dicatat sebagai persediaan dalam bentuk pekerjaan dalam proses. Ini penting untuk usaha jasa yang proyeknya berlangsung lebih dari satu periode akuntansi. Untuk bisnis di Indonesia, pemisahan antara HPP dan biaya operasional sangat penting karena memengaruhi perhitungan PPh dan penilaian profitabilitas setiap proyek.

Bagaimana MontPro Membantu Pemilik Bisnis Menghitung HPP Secara Otomatis

MontPro adalah AI-powered Finance OS yang dirancang untuk membantu pemilik bisnis di Indonesia menghitung HPP secara akurat tanpa harus menguasai akuntansi. MontPro tidak memiliki modul HPP terpisah karena perhitungan HPP sudah tertanam di dalam mesin akuntansi double-entry yang digunakan oleh sistem.

Untuk usaha dagang, MontPro menghitung HPP secara otomatis melalui integrasi modul AP/AR dan Inventory. Saat kamu mencatat faktur pembelian dari supplier, MontPro mendebit akun persediaan dan mengkredit akun utang usaha. Saat penjualan terjadi, MontPro secara otomatis membuat jurnal yang mendebit akun HPP dan mengkredit akun persediaan. Kamu tidak perlu menghitung manual sama sekali.

Untuk usaha jasa, MontPro memungkinkan kamu membuat jurnal manual untuk setiap penyerahan jasa. Kamu bisa mendebit akun HPP sebesar biaya tenaga kerja langsung dan material, lalu mengkredit kas atau utang usaha. Sistem double-entry memastikan setiap transaksi tercatat dua kali sehingga tidak ada angka yang hilang.

Semua nilai HPP yang sudah dihitung muncul di laporan laba rugi pada tab Income Statement. Di halaman Report Analytics, kamu bisa membandingkan HPP bulan ini dengan bulan lalu, dengan anggaran, atau dengan periode yang sama tahun lalu. Grafik waterfall menunjukkan faktor apa yang menyebabkan perubahan HPP.

Dashboard widget Gross Profit Margin menggunakan data HPP untuk menghitung laba kotor dan persentase margin. Jika HPP naik 15% dari bulan lalu, AI Insights MontPro akan menandai hal ini dan menyarankan untuk meninjau harga dari supplier.

Berikut perbandingan sebelum dan sesudah menggunakan MontPro:

AspekSebelum MontProDengan MontPro
Perhitungan HPPManual di Excel, rawan salahOtomatis saat transaksi dicatat
Sumber dataTersebar di nota, faktur, catatanTersentralisasi dalam satu sistem
Laporan laba rugiTerlambat, sering revisiReal-time dan akurat
Analisis HPPTidak tahu HPP per produkBisa lihat HPP per produk dan per periode
InsightTidak adaAI menandai perubahan HPP signifikan

MontPro juga memastikan kepatuhan pajak. AI tax classifier MontPro menandai setiap transaksi yang berkontribusi ke HPP dengan kode pajak yang benar, seperti ppn_standard untuk pembelian material. Ini memastikan laporan PPN dan PPh 23 yang disampaikan ke DJP sesuai dengan data yang sebenarnya.

Kamu bisa mencoba MontPro gratis selama 14 hari tanpa kartu kredit. Lihat fitur lengkapnya di https://montpro.xyz/features dan cek pilihan harga di https://montpro.xyz/pricing. Coba MontPro Gratis di https://montpro.aapgrp.com.

FAQ

Cara menghitung HPP usaha dagang?

Untuk menghitung HPP usaha dagang, gunakan rumus: HPP = Persediaan Awal + (Pembelian + Biaya Pengadaan - Retur Pembelian - Diskon Pembelian) - Persediaan Akhir. Contoh: jika persediaan awal Rp 50 juta, pembelian Rp 120 juta, ongkos kirim Rp 5 juta, retur Rp 10 juta, diskon Rp 3 juta, dan persediaan akhir Rp 45 juta, maka HPP = 50 + (120 + 5 - 10 - 3) - 45 = Rp 117 juta. Untuk bisnis di Indonesia, pastikan semua biaya pengangkutan sampai barang siap dijual dimasukkan ke dalam HPP sesuai PSAK 14. Jika omzet sudah melebihi Rp 4,8 miliar, kamu wajib dikukuhkan sebagai PKP dan harus memisahkan PPN dari harga beli.

Harga pokok penjualan itu apa?

Harga pokok penjualan atau HPP adalah total biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang dijual dalam satu periode. HPP menjadi pengurang pendapatan untuk mendapatkan laba kotor. Semakin tinggi HPP, semakin kecil laba kotor. Untuk usaha dagang, HPP terdiri dari harga beli barang, biaya pengangkutan, dan biaya lain sampai barang siap dijual, dikurangi retur dan diskon pembelian. Untuk usaha jasa, HPP terdiri dari biaya tenaga kerja langsung, material langsung, dan overhead langsung. HPP juga dikenal sebagai Cost of Goods Sold (COGS) dan menjadi komponen penting dalam laporan laba rugi serta perhitungan pajak penghasilan di Indonesia.

Bagaimana cara menghitung HPP untuk usaha jasa?

Untuk usaha jasa, HPP dihitung dengan menjumlahkan biaya tenaga kerja langsung, biaya material langsung, dan biaya overhead langsung yang terkait dengan penyediaan jasa. Rumusnya adalah HPP Jasa = Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Material Langsung + Biaya Overhead Langsung. Contoh: proyek desain logo senilai Rp 25 juta dengan biaya desainer Rp 8 juta, lisensi software Rp 2 juta, dan riset pasar Rp 1,5 juta memiliki HPP Rp 11,5 juta. Gaji staf administrasi, sewa kantor, dan biaya pemasaran tidak termasuk HPP, melainkan biaya operasional. Untuk proyek yang berlangsung lebih dari satu periode akuntansi, gunakan PSAK 14 untuk mencatat pekerjaan dalam proses.

Apa saja komponen HPP?

Komponen HPP untuk usaha dagang meliputi harga beli barang, biaya pengangkutan, biaya bongkar muat, dan biaya lain yang dikeluarkan sampai barang siap dijual. Retur pembelian dan diskon pembelian mengurangi total HPP. Untuk usaha jasa, komponen HPP meliputi biaya tenaga kerja langsung, biaya material langsung, dan biaya overhead langsung. Biaya yang tidak termasuk HPP adalah gaji staf administrasi, sewa kantor, biaya pemasaran, dan biaya operasional lainnya. Sesuai PSAK 14, semua biaya yang langsung terkait dengan perolehan barang atau penyediaan jasa harus dimasukkan ke dalam HPP. Untuk bisnis di Indonesia, pastikan pemisahan antara HPP dan biaya operasional dilakukan dengan benar agar laporan laba rugi akurat dan sesuai ketentuan DJP.

Apakah HPP sama dengan COGS?

Ya, HPP atau Harga Pokok Penjualan sama dengan COGS atau Cost of Goods Sold. Keduanya merujuk pada total biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang dijual dalam satu periode. Dalam laporan laba rugi, HPP dan COGS digunakan secara bergantian dan menempati posisi yang sama, yaitu sebagai pengurang pendapatan untuk mendapatkan laba kotor. Di Indonesia, istilah HPP lebih umum digunakan dalam laporan keuangan dan pelaporan pajak, sementara COGS lebih sering dipakai di perusahaan multinasional atau yang berstandar internasional. Nilai HPP yang sama akan menghasilkan laba kotor yang sama, apa pun istilah yang digunakan.

Bagaimana cara menghitung HPP jika tidak punya stok?

Jika bisnis tidak memiliki stok barang, kemungkinan besar kamu menjalankan usaha jasa. Untuk usaha jasa, HPP dihitung berdasarkan biaya langsung yang dikeluarkan untuk menyediakan jasa, yaitu biaya tenaga kerja langsung, material langsung, dan overhead langsung. Rumusnya adalah HPP Jasa = Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Material Langsung + Biaya Overhead Langsung. Kamu tidak perlu menghitung persediaan awal atau akhir. Namun jika bisnismu menjual barang tanpa menyimpan stok, misalnya model dropship, HPP dihitung berdasarkan harga beli barang dari supplier ditambah biaya pengiriman ke pelanggan, tanpa perlu memperhitungkan persediaan karena barang langsung dikirim ke pelanggan.

Apa perbedaan cara menghitung HPP untuk usaha dagang dan jasa?

Perbedaan utama terletak pada komponen dan rumus yang digunakan. Usaha dagang menghitung HPP dengan rumus: HPP = Persediaan Awal + (Pembelian + Biaya Pengadaan - Retur - Diskon) - Persediaan Akhir. Usaha jasa menghitung HPP dengan rumus: HPP = Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Material Langsung + Biaya Overhead Langsung. Usaha dagang harus memperhitungkan persediaan awal dan akhir karena ada barang yang disimpan di gudang. Usaha jasa tidak memiliki persediaan barang dagang, sehingga fokus pada biaya langsung yang dikeluarkan per proyek atau per periode. Keduanya sama-sama menjadi pengurang pendapatan untuk mendapatkan laba kotor dalam laporan laba rugi.

Bagaimana MontPro membantu menghitung HPP?

MontPro menghitung HPP secara otomatis melalui mesin akuntansi double-entry yang terintegrasi dengan modul AP/AR dan Inventory. Untuk usaha dagang, saat kamu mencatat faktur pembelian, MontPro mendebit akun persediaan dan mengkredit utang usaha. Saat penjualan terjadi, MontPro otomatis membuat jurnal COGS yang mendebit akun HPP dan mengkredit akun persediaan. Untuk usaha jasa, kamu bisa membuat jurnal manual untuk mendebit akun HPP dan mengkredit kas atau utang. Semua nilai HPP muncul di laporan laba rugi, dan kamu bisa membandingkannya antar periode di halaman Report Analytics. MontPro juga memiliki AI Insights yang menandai perubahan HPP yang signifikan, misalnya kenaikan 15% dari bulan lalu. Kamu bisa mencoba MontPro gratis selama 14 hari di https://montpro.aapgrp.com.

Menghitung HPP dengan benar adalah fondasi dari laporan keuangan yang sehat untuk usaha dagang maupun jasa. Dengan memahami rumus dan komponennya, kamu bisa menentukan harga jual yang tepat dan mengetahui profitabilitas bisnis secara akurat. MontPro membantu proses ini menjadi otomatis, akurat, dan sesuai regulasi perpajakan Indonesia.